waktu Banjarmasin

Jumat, 15 November 2013

jawanisasi

Jawa adalah kelompok etnik terbesar di Asia Tenggara. Etnik ini berjumlah kurang lebih empat puluh persen dari jumlah penduduk Indonesia. Tradisi Jawa amat kaya dan merentang paling kurang selama seribu tahun mulai dari sumber-sumber kuno sansekerta hingga kisah-kisah babad dan legenda kerajaan-kerajaan kuno seperti Pararaton dan Negara-kertagama. Pada perkembangan yang terus berkesinambungan melalui berbagai karya syair-syair Wedhataman Mangkunegara IV hingga melalui pemikir abad XX seperti Ki Hajar Dewantara dan Ki Ageng Soerjamentaram. Ataupun melalui penafsiran wayang kulit yang men-jawa-kan mitologi Mahabharata sebagai tema utamanya.
Sejarah inilah yang setidaknya mampu menggambarkan kebesaran Jawa di masa lampau. Ditambah adanya berbagai kerajaan besar dengan peradaban manusia yang maju seperti Mataram kuno dan Majapahit. Konon, Majapahit mampu menguasai sebagian besar Wilayah negara-negara Asia Tenggara. Kebesaran sejarah masa lalu ini menginspirasi pemimpin negara indonesia untuk menjadi pemimpin  yang kuat dan disegani oleh rakyatnya.
Jawanisasi
Kekuatan dominasi Jawa dalam etnisitas Indonesia  merasuki penjelasan mutakhir ideologi Pancasila dan gagasan-gagasan yang mendasari penciptaan manusia Indonesia seutuhnya. Karena kebesaran etnis Jawa dan rumangsa mereka sebagai pemelihara kesadaran tertinggi budaya dan peradaban, pengaruh mereka menjadi sedemikian kuat. Misalnya, pada masa orde lama, bangsa Indonesia mengenal literatur Pancasila (berasal dari bahasa Jawa Sanksekerta) dan slogan-slogan Soekarno menimbulkan kesan adanya usaha menguasai perpolitikan dengan memanfaatkan mantra-mantra sakti Jawa.
Memasuki masa orde Baru, formula mantra atau simbol semakin dominan. Kemunculannya saja sudah diawali dengan kata bertuah Supersemar (lagi-lagi bahasa Jawa) yang mendatangkan berkah tuhan Jawa, nenek moyang ras Jawa. Kata super ini bahkan menunjuk manifestasi ketuhanan yang sempurna, Ismaya(Semar), kakak dewa Shiwa. Dan semar adalah tokoh yang bijaksana dan pendukung pemenang. Kata Supersemar ini akronim dari surat perintah sebelas maret, perintah Soekarno kepada Soeharto untuk memulihkan ketertiban dalam negeri. Sayangnya sampai saat ini keberadaan dokumen itu tidak dapat diketahui tempanya.
Dalam proses stabilisasi lebih lanjut, Pacasila menjadi pusaka keramat yang semakin berkembang dan tidak dapat diganggu gugat, telah menjadi formula suci pelindung bangsa, juga diubah menjadi benda yang kepemilikanya melegitimasi rezim dan memberkati jalur yang dilayarinya. Pancasila menjadi seperti wahyu, sebuah mandat ketuhanan.
Pancasila semakin diperluas penyebaranya ke seluruh Indonesia. Penafsiran terhadap kelima sila Pancasila diangkat menjadi pandangan hidup rakyat, bangsa dan negara. Dari pemikiran ini maka sangat logis bila tindakan yang menyusul adalah dicetuskanya Pancasila sebagai satu-satunya asas teroganisir bagi segala aspek kehidupan di negeri ini. Pancasila melaui berbagai propaganda Orde Baru, kekuatanya mengungguli agama-agama dan ideologi-ideologi politik. Seluruh manusia Indonesia diarahkan menjadi manusia yang Pancasilais. Pemersatuan arus pemikiran di tengah pluralitas bangsa dengan cara yang lembut.
Berbagai propaganda dilakukan oleh Orde Baru untuk melaksanakan misi pancasilais terhadap seluruh rakyat indonesia. Pancasila dijadikan sebagai pendidikan moral dan menjadi mata pelajaran wajib dari SD hingga Perguruan Tinggi. Generasi tua pun juga harus ditempa dengan mentalitas Pancasila. Digalakkanlah sebuah program P4 (Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila). Semua abdi negara wajib mengikuti pelatihan ini.
Setelah rakyat Indonesia mengalami penyatuan secara ideologis, Jawanisasi juga dilakukan melalui program pemerintah, Transmigrasi. Pemindahan manusia Jawa ke daerah-daerah luar Jawa, istilah luar Jawa ini juga bisa difahami bahwa Jawa adalah pusat, jantung dan batin negeri ini. Penyebaran penduduk ini seiring perjalanya menimbulkan pandangan imperialisme Jawa, penduduk Jawa mampu mendominasi penduduk lokal dan mampu menjadi majikan bagi masyarakat asal.
Fasisme Jawa di Indonesia
Penggunaan simbol kebudayaan Jawa sebagai perekat dan pemersatu bangsa dalam sebuah ikatan negara inilah yang merupakan nilai dari fasisme Jawa. Sebagaimana juga dilakukan oleh Mussolini dengan katafasces (batang-batang kayu yang diikat di sekeliling kampak), hal ini menggambarkan wewenang politik yang didukung oleh persatuan bangsa. Simbol itu dianggap tepat untuk menggembalikan kebesaran zaman kekaisaran Romawi kepada Italia. Ataupun juga seperti yang dilakukan Hitler dengan mengangkat sejarah lama akan kesucian dan keperkasaan suku Arya kepada Jerman.
Ada berberapa poin yang mampu menyelaraskan bahwa proses Jawanisasi adalah bentuk Fasisme Jawa di Indonesia. Sebagaimana juga dilakukan Mussolini ataupun Hitler. Sebuah semangat memoles kejayaan masa lalu dalam bingkai modern yang diawali dengan kegamangan akan kesejahteraan masa mendatang.
Nasionalime, sebuah niatan penyatuan perbedaan kultur pandangan politik ke dalam sebuah ideologi bangsa. Ideologi tersebut merupakan pandangan hidup dan
jalan pijakan bagi manusia dalam menjalani kehidupan berbangsa dan bernegara. Maka di Indonesia lahirlah Pancasila sebagai pemegang otoritas persatuan. Pancasila dianggap mampu menjawab berbagai permasalahan hidup ditengah pluralitas bangsa.
Otoriterisme, keberhasilan fasisme nampaknya juga tergantung pada kebudayaan politik otoriter yang mendasar. Pertanda dari organisasi fasis ialah hirarki yang kaku dan pengikut pada jenjang terbawah tunduk pada wewenang pemimpin tunggal. Pemimpin tersebut menggunakan daya tarik kharismatis untuk memperkuat pernyataanya atas pertimbangan yang benar dan pada kepatuhan mutlak. Kebudayaan politik yang mendukung gaya organisasi sosial dan politik ini tidak cocok untuk pola-pola dan norma-norma partisipasi yang mencirikan masyarakat yang lebih demokratis dan dalam lembaga-lembaga negara lebih dikenal sebagai komando bukan kompromi, lebih menonjolkan dogmatis daripada tawar-menawar.
Otoritarisme Orde Baru juga menunjukkan pola fasisme. Bahwa kekuasaan komando Soeharto tidak dapat diganggu gugat, bahkan sekadar didiskusikan. Kepatuhan rakyat kepada Soeharto begitu kuat. Soeharto dianggap sebagai pemimpin yang sangat berkharisma. Bagi pemimpin yang semacam ini tidak ada kesalahan yang dia perbuat. Segala keputusanya adalah kebenaran. Kharisma yang begitu kuat didapatkan dengan berbagai simbol kekuasaaan yang dia lebur dalam dirinya, Soeharto juga berujar bahwa dia adalah  pemimpin Nusantara sebagai Raja Jawa.
Perkembangan industri dan status sosial,  basis awal gerakan fasisme berada dalam masyarakat kelas menengah. Kelas menegah mengalami ketakutan ketika kelas bawah mulai mengancam eksitensi mereka. Dengan pola pikir semacam ini Soeharto juga memanfaatkanya, kaum petani dan buruh bergerak bersama dalam naungan PKI untuk membuat perubahan dan perjuangan nasib mereka supaya semakin sejahtera. Maka dikuatkanlah kelas menegah seperti para abdi negara untuk mendukung pemerintah melalui doktrin P4 yang berkesinambuangan.
Fasisme kurang memberikan perhatian terhadap rasionalitas, pusat perhatianya tertuju pada pengertian yang sama terhadap kesetiaan warga negara kepada pemerintah sebagai ungkapan yang murni sebagai, ras yang luhur dan pada tindakan ketimbang pemikiran. “Sepi ing pamrih, rame ing gawe. Mamayu hayuning bawono!”,Sebuah falsafah jawa yang mengajarkan bahwa sebagai manusia harus sedikit berbicara dan banyak bekerja, maka kesejahteraan akan tercapai. Setidaknya pola mantra yang senada juga penah disampaiakan oleh  Mussolini kepada rakyatnya.”Tindakan! Perbuatan! ini saja yang perlu, Biarkan teori bagi para penulis!”. Sebuah doktrin pemasungan rasionalitas. Kemampuan manusia dalam berfikir tidak diakui yang dibutuhkan hanyalah kerja, patuh dan kerja.
Anti Klimaks Fasisme Jawa
Selama kurun waktu tiga puluh dua tahun rezim Orde Baru memimpin, Jawanisasi begitu gencar dilakukan. Berbagai kebijakan diimplementasikan sesuai dengan standar Jawa. Lembaga pemerintahan terendah juga digeneralisai di tengah pluralitas negeri ini dengan adanya lurah beserta perangkat-perangkatnya yang itu semua menafikan kekuasaan lokal. Para pemangku adat tidak dihargai eksistensinya dan hukum adat lokal disingkirkan. Perpindahan penduduk Jawa ke daerah-daerah luar Jawa meninimbulkan kecemburuan masyarakat lokal. Masyarakat lokal menjadi buruh dari kaum pendatang Jawa dan sektor-sektor pemerintah pun banyak dipimpin oleh orang Jawa. Mayarakat lokal menjadi tersisihkan, berjuang meraih kesejahteraan di tengah hegemoni Jawa pendatang. Hal ini yang kemudian menimbulkan konflik horisontal yang tak kunjung usai.
Reformasi 1998 membuka keran yang lebar atas kucuran harapan kebebasan dari keterkungkungan dan dominasi elit penguasa. Benih-benih konflik di daerah akibat dari kesenjangan kelas dan ketidakadilan semakin meruncing, meletuslah berbagai konflik horisontal seperti konflik Timor Timur yang akhirnya memerdekaan diri, konflik Sambas, konflik Ambon dan Papua. Semuanya berakibat dari integrasi yang mengungulkan salah satu etnis saja.
Pondasi fasisme Jawa yang selama ini dibangun oleh Orde Baru runtuh seiring keterbukaan dan kebebasan mendapat informasi. Kesenjangan kesejahteraan antara Jawa dengan daerah lainya sangat jauh. Hal ini juga telah mampu menggugah kesadaran rakyat daerah untuk bertindak dan menyeruakan kesamaan kesejahteraan bagi mereka.
Penyatuan bangsa yang dipaksakan dengan mantra indah Pancasila akhirnya hanya menjadi uthopia un-sichketika ruang dialog tidak diberikan. Sebuah penyatuan bangsa menjadi modal utama untuk maju bagi bangsa seplural Indonesia. Namun penyatuan yang dipaksakan apalagi hanya dengan sebuah dominasi etnis hanya akan mengoreskan luka dan akhirnya akan mengalirkan darah rakyat. Akhirnya setelah empat belas tahun reformasi digulirkan, sisa-sisa fasisme Jawa di Indonesia tidak dapat serta merta ditinggalkan, karenanya pemaknaan ulang terhadap fasisme Jawa zaman Soeharto menjadi hal yang utama demi mengurangi duka dan luka lama rakyat bangsa ini. Kesejahteraan dan kejayaan layak didapat oleh bangsa sehebat dan seindah Indonesia.
“Sejarah tidak meninggalkan apapun kecuali rentetan lempengan masa lalu yang diam. Sejarah akan berdialog dengan manusia zaman ini bila manusianya yang mendialogkan. Sejarah akan menjadi berarti bila dimaknai sebagai pelajaran. Sejarah membuat bangsa ini mampu menoleh ke belakang untuk berhati-hati dengan langkah selanjutnya (Mahalli,2013).
Selamat mengingat sejarah!!!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar